Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Alina, ibu dua anak ini sebelum matahari benar-benar terbangun, ia sudah melaksanakan sholat shubuh, membereskan ranjang bekas tidurnya, tangannya sudah sibuk  membersihkan tugas rumah tangga, membangunkan anak-anak untuk siap berangkat sekolah. Malamnya pun sudah melipat seragam sekolah anak-anak, dan menyiapkan buku dan tas sekolah anaknya, memastikan tidak ada PR yang belum dikerjakan. Rumah kecil itu sering dipenuhi  suara langkah kaki mungil yang berlarian ke sana kemari. Dari luar, hidupnya tampak sederhana dan utuh seperti keluarga pada umumnya. Namun tak seorang pun benar-benar tahu bahwa di dalam dada perempuan itu, ada perang panjang yang terus berlangsung tanpa suara.

Sejak dulu Alina memiliki mimpi yang tak pernah benar-benar mati. Ia ingin memiliki rumah yang lebih layak untuk anak-anaknya, ingin menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan islami yang lebih terjaga sampai mereka sekolah setinggi mungkin, selain itu ia ingin membuktikan bahwa hidup tidak selalu harus diwariskan dalam bentuk kekurangan. Tetapi mimpi-mimpi itu seperti langit yang terlalu tinggi untuk dijangkau jika ia hanya berdiri di dapur setiap hari. Sementara kebutuhan terus datang seperti ombak yang tak pernah lelah menghantam pantai.

Suatu malam, ketika anak-anaknya telah tidur, Alina duduk lama di ruang tengah yang remang. Ia memandangi tangan kasarnya sendiri—tangan yang lebih sering mencuci piring dan baju daripada memegang dirinya sendiri. Dalam diam, ia mulai bertanya pada hidup: apakah seorang ibu harus selalu memilih antara keluarganya atau memperjuangakn untuk segera mewujudkan mimpi keluarga besarnya? Pertanyaan itu tidak pernah dijawab siapa pun, sebab dunia terlalu sering meminta perempuan menjadi kuat tanpa pernah mengajarkan caranya.

Hari demi hari, kegelisahan itu tumbuh seperti hujan yang menumpuk di langit mendung. Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh dekat dengannya, mendengar cerita kecil mereka sepulang sekolah, memastikan mereka makan tepat waktu, dan mengawasi tangan mungil mereka agar tidak terlalu lama menggenggam gawai. Ia tahu betul zaman sekarang mampu mencuri masa kecil anak-anak dengan sangat halus. Pergaulan yang salah, tontonan youtube yang variatif untuk anak-anak, game yang sudah modern dengan berbagai petualangan didalamnya dan dunia internet yang lebih cepat dewasa daripada usia mereka sendiri sering membuat dadanya sesak oleh ketakutan.

Namun di sisi lain, kenyataan hidup tidak pernah benar-benar lunak. Harga kebutuhan naik perlahan seperti api kecil yang diam-diam membakar isi rumah. Ada cicilan, ada biaya sekolah, ada impian yang terus tertunda. Kadang Alina merasa marah pada keadaan. Mengapa hidup begitu gemar menguji perempuan dengan pilihan-pilihan yang sama-sama menyakitkan? Jika ia tinggal di rumah, mimpinya berjalan lambat. Jika ia bekerja, hatinya akan tertinggal bersama anak-anaknya.

Akhirnya, dengan langkah yang dipenuhi ragu, Alina memutuskan bekerja. Pagi harinya kini terasa lebih tergesa. Ia berangkat ketika embun masih menggantung di ujung daun dan pulang saat langit mulai gelap. Di perjalanan menuju tempat kerja, pikirannya tidak pernah benar-benar ikut berjalan. Sebagian dirinya selalu tinggal di rumah—di meja makan, di tas sekolah anak-anaknya, di wajah kecil yang kadang murung karena ibunya tak lagi selalu ada.

Ada hari-hari ketika ia pulang dan mendapati anak sulungnya terlalu sibuk bermain gawai tanpa peduli waktu. Ada juga hari dimana anaknya main dengan temannya sampai terjatuh dari sepeda. Malam itu Alina menangis diam-diam namun hanya bisa dalam hati. Air matanya jatuh bersamaan dengan suara keran yang sengaja dibuka agar tidak terdengar siapa-siapa. Ia merasa gagal menjadi ibu, sekaligus belum cukup berhasil menjadi perempuan yang mengejar mimpi. Rasanya seperti berjalan di atas jembatan rapuh sambil memikul seluruh isi rumah di pundaknya sendiri.

Tetapi hidup rupanya tidak hanya berisi luka. Di sela kelelahan yang hampir membuatnya runtuh, ada momen-momen kecil yang diam-diam menyelamatkannya. Suatu malam, anak sulungnya memeluknya dari belakang sambil berkata pelan, “Ibu capek ya?” Kalimat sederhana itu membuat dadanya sesak oleh haru. Anak-anak ternyata tidak selalu menuntut kesempurnaan. Kadang mereka hanya ingin tahu bahwa ibunya tetap mencintai mereka, bahkan di tengah lelah yang nyaris menghabiskan dirinya sendiri.

Waktu terus berjalan, dan perlahan mimpi-mimpi yang dulu hanya menjadi angan mulai menemukan bentuknya. Sedikit demi sedikit tabungan terkumpul. Rumah mulai diperbaiki. Anak-anak tetap tumbuh, kadang nakal, kadang membuat marah, tetapi masih pulang untuk mencari pelukan ibunya. Alina akhirnya mengerti bahwa menjadi perempuan sering kali berarti belajar hidup di antara dua dunia sekaligus: dunia yang meminta dirinya menjadi ibu sepenuhnya, dan dunia yang memaksanya menjadi pejuang tanpa henti.

Dan pada akhirnya, Alina tidak pernah benar-benar memilih salah satu. Ia memilih keduanya—meski harus menangis lebih sering, lelah lebih panjang, dan tidur lebih sedikit semuanya dengan cita-cita kebaikan yang mungkin oleh sebagian orang menganggap tidak fokus urus anak. Sebab begitulah cinta seorang ibu bekerja: ia rela membagi dirinya menjadi dua demi memastikan keluarganya tetap memiliki masa depan. Dunia mungkin hanya melihat seorang perempuan yang bekerja sambil mengurus rumah. Namun sesungguhnya, di balik tubuh yang tampak biasa itu, ada hati yang setiap hari sedang mempertaruhkan dirinya sendiri demi orang-orang yang ia cintai.

Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—