Dunia yang Melalaikan Orang Berilmu
Saya pernah berpikir bahwa agar kita tidak dipandang rendah oleh orang lain, maka kita harus kuat secara ekonomi. Harus punya posisi. Harus memiliki pengaruh. Karena kenyataannya, banyak pintu yang hanya terbuka ketika kita membawa jabatan atau harta di genggaman. Dunia memang terasa lebih ramah bagi mereka yang tampak berhasil di luar. Dan saya kira, banyak orang berilmu pun tergoda oleh logika ini.
Namun ada kisah yang harus dijadikan pelajaran adalah ketika saya menyaksikan orang-orang yang dulu saya kenal sebagai penuntut ilmu yang tawadhu', sahabat seperjuangan dalam diskusi keilmuan, berubah total ketika karunia dunia datang mengetuk pintu mereka. Pangkat mulai didapat. Mobil mewah menggantikan motor butut yang dulu kami boncengi berdua. Jabatan tinggi membuka ruang bagi pujian dan penghormatan. Tapi juga menutup pintu kepekaan.
Saya masih ingat, suatu hari kami berpapasan di jalan. Saya berjalan kaki, ia melintas dengan kendaraannya. Tatapan kami sempat bertemu, namun tak ada senyum, apalagi sapaan. Seolah-olah saya tak pernah ada dalam sejarah hidupnya. Saya terdiam. Bukan karena marah, tapi karena hati saya tercekat—saya menyaksikan sendiri, bagaimana dunia bisa melalaikan orang yang dulunya begitu takut kepada Allah.
Hubungan kami pun perlahan merenggang. Dulu kami sering bertukar ide, menguatkan satu sama lain, saling memberi semangat. Bahkan, sering saya mendengar seolah sahabat hilang satu tumbuh sepuluh ribu. Ia punya dunia baru—lingkaran baru, agenda baru, dan mungkin cara pandang baru yang membuat saya tak lagi relevan.
Saya mencoba bertanya dalam hati: mungkinkah itu yang Allah uji untuk kita? Apakah saya tidak menyenangkan? Apakah saya terlalu banyak diam? Atau memang dia sudah berubah? Tapi tak ada ruang untuk dialog.
Ketika saya mencoba mengirimkan pesan atau menyampaikan ide, sering kali tak digubris. Bahkan jika dibaca, ia tak merasa perlu menjawab. Saya menyadari satu hal: ia mungkin tahu bahwa sikapnya menyakitkan, tapi ia merasa tak perlu dikoreksi. Ia sadar, tapi merasa berhak menjalani hidup sesukanya karena telah memiliki kekuatan duniawi.
Inilah yang ditakutkan oleh para ulama sejak dahulu. Bahwa ilmu yang tak dibarengi hati yang hidup hanya akan menjadi tangga menuju kelalaian. Di antara fitnah terbesar bagi penuntut ilmu adalah cinta dunia yang menyusup melalui pujian, kehormatan, dan jabatan. Ilmu seharusnya menjadi penuntun, tapi bisa berubah menjadi perisai untuk membenarkan keangkuhan jika tidak dijaga dengan hati yang takut kepada Allah.
Sungguh, dunia ini bisa melalaikan siapa saja, bahkan mereka yang hafal ayat-ayat peringatan. Bahkan mereka yang pernah menangis dalam sujudnya.
Dunia menyusup pelan-pelan, membuat hati tebal, telinga tuli, dan mata buta terhadap saudara yang dulu ada dalam perjuangan. Seseorang bisa tahu bahwa dirinya menyakiti orang lain, tapi tetap merasa benar karena merasa punya kuasa dan punya alasan.
Ironisnya, bukan ketidaktahuan yang membuat seseorang membeku, tapi justru karena terlalu tahu. Ia tahu benar batasan, tapi merasa sudah cukup istimewa untuk mengabaikannya. Ia tahu adab dalam persahabatan, tapi merasa telah cukup memberi untuk tak perlu melanjutkan. Ia tahu ia salah, tapi merasa kritik tak berlaku baginya. Dan di sinilah puncak dari penyakit ilmuwan yang tertipu oleh dunia: merasa kebal terhadap nasihat.
Saya menulis ini bukan karena ingin menegur siapa pun secara pribadi, tapi ingin menggambarkan betapa dunia mampu mengalihkan manusia dari fitrahnya. Betapa cepat hati ini bisa tumpul jika kita tidak terus-menerus mengasahnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah). Dan saya menulis ini juga sebagai peringatan bagi diri saya sendiri—bahwa kelak, jika Allah memberi amanah dunia, saya harus menjaganya dengan takut, bukan dengan bangga.
Ketika Kursi Kekuasaan Mengalahkan Keadilan
Saya sering merenung dalam sepi, di tengah hingar bingar dunia yang semakin bising dengan opini, debat, dan wacana. Tiap hari, layar kaca dan media sosial menyuguhkan parade ilmuwan, tokoh publik, dan akademisi yang tampil dengan penuh percaya diri—bicara tentang kebijakan, menanggapi kritik, berdiskusi soal rakyat dan bangsa. Tapi sayangnya, semakin lama saya melihat, semakin hilang nilai dari apa yang disampaikan.
Banyak dari mereka hanya terlihat cerdas, tapi tak terasa adil.
Mereka bicara dengan bahasa tinggi, istilah teknis, argumentasi ilmiah, namun ketika disentuh dengan nasihat yang tulus atau koreksi yang jujur, mereka tersinggung. Ketika diingatkan atas kesalahan yang nyata—atas keputusan yang melukai masyarakat, atas ucapan yang menyudutkan kebenaran, atau kebijakan yang merugikan keadilan—mereka tak menerima. Bukannya merendah, mereka justru menyerang balik. Diskusi yang seharusnya membuka ruang klarifikasi berubah menjadi panggung defensif. Kesalahan tak lagi dilihat sebagai sesuatu yang perlu diakui, tapi sebagai kelemahan yang harus ditutupi dengan retorika dan kekuasaan.
Saya heran—mengapa ilmu yang mereka miliki tak lagi membimbing mereka untuk rendah hati?
Hari ini kita justru melihat orang-orang yang cerdas, paham hukum, tahu dalil, tapi tak malu mengabaikan keadilan. Kursi kekuasaan telah menumpulkan kepekaan nurani. Seolah ketika seseorang sudah duduk di atas kekuasaan, maka nasihat dari bawah dianggap tak relevan lagi. Seolah nasihat hanya berlaku untuk orang biasa, sementara mereka yang berkuasa menjadi makhluk kebal kritik.
Saya pernah menyaksikan diskusi publik di televisi antara seorang pejabat dengan seorang pengamat. Ketika sang pengamat menyampaikan kritik logis, sang akademisi yang juga pejabat tinggi malah merendahkan, menyebutnya "Bodoh", "Kritiknya tanpa bukti", dan menyuruh "belajar dulu". Padahal, yang dikritik adalah substansi, bukan pribadi.
Inilah wajah dari kesombongan yang terbungkus intelektualitas. Padahal, dalam sejarah Islam, para ulama besar seperti Imam Syafi’i menerima kritikan dari siapa saja, bahkan dari muridnya sendiri. Mereka menjadikan kebenaran sebagai kompas, bukan kedudukan.
Ketika kursi kekuasaan mengalahkan keadilan, maka yang berbahaya bukan hanya kebijakan yang salah, tetapi juga budaya membungkam. Budaya yang menilai siapa yang berbicara, bukan apa yang disampaikan. Jika yang berbicara bukan bagian dari kekuasaan, maka suara itu dianggap gangguan. Inilah penyakit yang lebih mematikan dari kebodohan: ilmuwan yang tahu kebenaran, tapi memilih mendiamkannya demi posisi, jabatan, atau kedekatan politik.
Lebih dari itu, saya merasa ngeri jika melihat bagaimana ilmu yang seharusnya membawa seseorang dekat kepada Allah justru digunakan untuk menghalalkan segala cara. Lihatlah—betapa sering ayat dan hadits digunakan bukan untuk mengingatkan jiwa, tapi untuk membenarkan kebijakan. Ayat tentang taat kepada pemimpin dikutip berulang-ulang, tapi ayat tentang adil, tentang memperhatikan kaum lemah, tentang tidak mendzalimi orang lain justru diabaikan.
Dunia kini menyaksikan orang-orang yang bukan tak tahu, tapi tak mau tunduk. Mereka tahu benar posisi ilmunya, tapi tak lagi punya kekuatan untuk berkata, "Saya salah." Inilah kehancuran yang sesungguhnya—ketika kekuasaan membuat seseorang kehilangan keberanian untuk jujur terhadap dirinya sendiri.
Saya menulis ini bukan untuk menuding siapa pun. Tapi untuk mengingatkan diri saya dan siapa pun yang kelak Allah beri amanah: bahwa kursi itu ujian.
Jika hati tak dijaga dengan muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi), maka jabatan bisa menggelincirkan orang berilmu lebih dalam daripada orang bodoh.
Karena itulah, keadilan tidak boleh tunduk pada kekuasaan. Justru kekuasaanlah yang harus tunduk pada keadilan. Jika tidak, maka semua ilmu yang dikumpulkan bertahun-tahun, semua gelar dan kehormatan, tak lebih dari beban yang akan memberatkan di hari hisab.
Jabatan Tinggi, Amanah yang Diremehkan
Dulu, kami begitu dekat. Duduk bersama di bangku sekolah, berbagi mimpi dan idealisme yang menggelegak. Kami pernah menangis bersama saat mendengar kisah Umar bin Khattab yang menangis dalam doanya karena takut tak mampu menunaikan amanah. Kami berdiskusi panjang tentang pentingnya adab di atas ilmu, tentang hakikat pemimpin yang sejatinya pelayan, bukan penguasa. Tapi semua itu terasa hilang begitu ia duduk di kursi jabatan.
Saat itu, saya hanya ingin menyampaikan kabar. Sekadar bertanya kabar keluarga atau menyapa seperti dulu.
Tapi pesan saya tak berbalas. Beberapa kali saya kirim, tak ada tanggapan. Jika pun dibalas, itu pun lama sekali—berhari-hari, kadang bahkan hanya dengan satu atau dua kata seadanya. Saya mencoba husnuzan. Mungkin sibuk. Tapi tak sekali dua kali hal ini terjadi, hingga akhirnya saya menyadari: jabatan telah mengubah cara ia memandang orang di luar lingkarannya.
Jabatan tinggi kadang tak hanya meninggikan posisi seseorang di mata manusia, tapi juga bisa meninggikan ego tanpa disadari. Ia bukan lagi teman seperjuangan, tapi seperti sedang menjaga jarak dari "kerumunan bawah." Padahal dulu, kami sepakat bahwa ilmu harus membimbing hati untuk tetap tunduk dan rendah. Bahwa semakin tinggi jabatan, semakin berat pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Apa yang saya saksikan bukan sekadar kisah teman lama yang berubah, tapi potret kegagalan ilmu dalam membimbing hati.
Di saat seseorang memahami hadits dan ayat tentang amanah, tapi tak lagi menjadikannya cermin dalam kehidupan, saat itulah ilmu tak lagi menuntun. Ilmu hanya tersimpan di kepala, tak menetes ke dada, apalagi menjadi arah hidup.
Sebagian orang berubah bukan karena tidak tahu, tapi karena hatinya tak lagi hidup. Ketika hati sudah tak peka terhadap hak-hak sesama, terhadap adab dalam relasi sosial, terhadap perasaan sahabat lama, maka jabatan telah menjadi ujian yang gagal dihadapi. Seharusnya, ilmu yang mereka pelajari dulu menjadi pengingat bahwa setiap hak saudara seiman adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Bahkan menyapa dan menjawab salam pun adalah bagian dari keimanan.
Saya tidak menulis ini karena kecewa, tapi karena takut: takut bahwa kita semua bisa saja mengalami hal serupa. Kita tahu, tapi tak takut. Kita mengerti, tapi tak tunduk. Kita belajar, tapi tak mengamalkan. Karena itu, tulisan ini adalah doa dan peringatan: semoga saat Allah takdirkan kita diberi amanah, kita tidak ikut-ikutan meremehkannya.

Tidak ada komentar
Posting Komentar