Ia membangun dirinya seperti rumah kaca di tengah kota. Dari luar tampak terang dan terbuka. Dindingnya bening, seolah siapa saja boleh melihat isi di dalamnya. Orang-orang datang karena percaya tempat itu menyimpan keteduhan. Di depan pintunya tertulis kalimat yang membuat banyak orang merasa aman.
Dan benar, ia mendengar. Ia mempersilakan orang lain bicara sampai selesai. Tidak memotong. Tidak menahan. Tatapannya tenang seperti danau yang nyaris tak beriak. Namun semakin lama orang-orang sadar, ketenangan itu bukan kedalaman, melainkan permukaan yang pandai menyembunyikan batu didalamnya. Sebab setiap kritik yang datang hanya dipersilakan duduk sebentar, lalu diantar keluar tanpa pernah benar-benar diberi tempat tinggal di dalam keputusan.
Ia memang membuka ruang diskusi, tetapi hanya sejauh ruang itu tidak menggoyang kursi yang ia duduki. Semua boleh berbicara, asalkan arah akhirnya tetap menuju kehendaknya. Pendapat orang lain hanya seperti lilin kecil di siang hari: ada, tetapi cahayanya tak pernah dianggap cukup penting untuk mengubah arah perjalanan.
Dan bila ada yang terlalu keras menyampaikan kebenaran, wajahnya mulai berubah. Suaranya meninggi seperti angin yang mendadak membanting jendela-jendela rumah. Ia membentak. Kata-katanya meluncur tajam, kadang lebih melukai daripada isi kritik itu sendiri. Anehnya, orang-orang di sekelilingnya justru berkata “Dia marah karena sayang.” Kalimat itu diulang terus-menerus sampai amarah tampak seperti bentuk kasih yang sah. Padahal tidak semua nada tinggi lahir dari kepedulian. Ada marah yang sebenarnya hanya ketakutan kehilangan kendali.
Yang paling menyedihkan adalah ketika bentakan itu mulai dianggap wajar. Orang-orang belajar menelan kecewa sendiri. Mereka mulai mengukur kata-kata sebelum berbicara, takut satu kalimat yang berbeda akan berubah menjadi petir di tengah ruangan. Perlahan, kejujuran kehilangan tempat duduknya. Yang tersisa hanyalah kehati-hatian dan anggukan-anggukan palsu.
Yang paling menyedihkan adalah ketika bentakan itu mulai dianggap wajar. Orang-orang belajar menelan kecewa sendiri. Mereka mulai mengukur kata-kata sebelum berbicara, takut satu kalimat yang berbeda akan berubah menjadi petir di tengah ruangan. Perlahan, kejujuran kehilangan tempat duduknya. Yang tersisa hanyalah kehati-hatian dan anggukan-anggukan palsu.
Ia menyebut dirinya pecinta ilmu. Rak-rak bukunya penuh. Lisannya fasih mengutip kebijaksanaan. Namun semakin tinggi ilmu itu naik ke kepala tanpa turun ke hati, semakin dingin ia memandang manusia lain. Ia lupa bahwa pengetahuan seharusnya membuat seseorang lebih lapang, bukan lebih mudah murka. Sebab ilmu yang tidak disertai kerendahan hati hanya akan melahirkan manusia yang merasa dirinya matahari, sementara orang lain sekadar bayangan yang harus mengikuti arah cahayanya.
Ironisnya, orang seperti itu sering paling gemar berbicara tentang adab. Ia ingin dihormati dalam setiap kalimat, tetapi lupa menjaga hormat ketika orang lain berbeda pendapat. Ia meminta orang bicara dengan santun, sementara amarahnya sendiri dibiarkan berjalan tanpa tali. Seolah kemarahan miliknya adalah nasihat, tetapi kemarahan orang lain adalah pembangkangan.
Padahal sejarah telah lama mengajarkan sesuatu yang lebih halus daripada sekadar kebencian. Dalam Al-Qur’an, sosok seperti Fir’aun diabadikan bukan untuk menghina wajah manusianya, melainkan untuk memperingatkan wataknya. Bahkan nama aslinya tidak disebutkan dengan jelas. Seakan Al-Qur’an ingin berkata bahwa yang harus dibenci bukan manusia sepenuhnya, tetapi kesombongan, kerakusan kuasa, dan hati yang menolak kebenaran. Kitab suci itu tidak sibuk merendahkan pribadi seseorang; ia justru ingin menyelamatkan manusia dari sifat yang bisa menenggelamkannya sendiri.
Tetapi manusia sering melakukan kebalikannya. Ia merasa dirinya paling benar, lalu menjadikan kritik sebagai musuh pribadi. Ia tidak lagi melihat nasihat sebagai cahaya, melainkan serangan terhadap martabatnya. Dari situlah lahir ruang-ruang yang tampak hidup tetapi sebenarnya penuh ketakutan. Orang-orang hadir secara fisik, namun pikiran mereka memilih diam agar tidak disambar amarah yang disebut-sebut sebagai bentuk cinta.
Dan akhirnya, rumah kaca itu tetap berdiri megah di tengah kota—dipenuhi buku, kata-kata bijak, dan suara paling keras dari pemiliknya sendiri. Namun pelan-pelan rumah itu kehilangan satu hal yang paling penting: kejujuran orang-orang di dalamnya. Sebab manusia bisa bertahan di bawah kemiskinan, kesulitan, bahkan tekanan, tetapi tidak akan lama bertahan di tempat di mana suara mereka hanya diminta untuk didengar, bukan untuk dihargai.
Tulisan ini tidak ingin bermaksud membicarakan seseorang, ini adalah murni gagasan penulis yang ingin menggambarkan satu sikap anak manusia untuk tetap berpegang teguh terhadap nilai nilai kebaikan, terlebih kebaikan yang menyangkut urusannya dengan orang lain. Sebagaimana guru guru kami menasehati murid-muridnya untuk semakin menambah ketaqwaan. Taqwa artinya kita harus semakin baik dengan Allah dan baik terhadap sesama manusia. Wallahu A'lam bishowaab
Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—
Tulisan ini tidak ingin bermaksud membicarakan seseorang, ini adalah murni gagasan penulis yang ingin menggambarkan satu sikap anak manusia untuk tetap berpegang teguh terhadap nilai nilai kebaikan, terlebih kebaikan yang menyangkut urusannya dengan orang lain. Sebagaimana guru guru kami menasehati murid-muridnya untuk semakin menambah ketaqwaan. Taqwa artinya kita harus semakin baik dengan Allah dan baik terhadap sesama manusia. Wallahu A'lam bishowaab
Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—

Tidak ada komentar
Posting Komentar