Malam itu hujan turun perlahan di atas genting rumah yang mulai rapuh dimakan usia. Di sudut dapur, seorang ibu memandang anak lelakinya yang kini tumbuh tinggi melebihi pundaknya sendiri. Anak itu baru saja dimarahi karena kembali membuat adiknya menangis. Suaranya keras, langkahnya kasar, dan tingkahnya sering membuat rumah terasa gaduh seperti pasar menjelang petang. Namun anehnya, setiap kali kemarahan hendak menetap lama di dada sang ibu, ingatannya selalu kembali pada masa ketika anak itu masih berupa denyut kecil di dalam rahimnya—denyut yang dulu ditunggu dengan doa dan air mata panjang di sepertiga malam.
Dulu, sebelum tangis pertamanya memenuhi ruang persalinan, ayah dan ibunya pernah menjadi dua manusia yang sangat takut kehilangan harapan. Bertahun-tahun mereka menunggu suara kaki kecil berlari di rumah sempit itu. Maka ketika dokter berkata bahwa kehidupan kecil sedang tumbuh di perut sang ibu, ayahnya pulang dengan mata basah yang disembunyikan di balik senyum. Mereka membeli baju bayi meski uang belanja sering tidak cukup sampai akhir bulan. Sebab cinta orang tua selalu lebih dulu lahir dibanding anaknya sendiri.
Anak itu tumbuh menjadi matahari kecil di rumah mereka. Ia adalah senyum pertama yang membuat seorang ayah lupa letih sepulang kerja. Ketika pertama kali memanggil kata “Ayah”, lelaki itu diam-diam menangis di belakang pintu kamar mandi. Sedang ibunya sering mencium rambut anak itu saat tertidur, seolah takut waktu mencurinya terlalu cepat. Mereka menatapnya seperti seseorang menatap masa depan yang akhirnya mau datang.
Tetapi waktu memang gemar mengubah banyak hal. Anak kecil yang dulu takut gelap itu kini mulai berani dan aktif. Kadang ia mendorong adiknya hanya karena perkara sepele. Kadang ia membentak ibunya tanpa sadar bahwa suara itu pernah menjadi suara yang paling dirindukan di dunia. Rumah yang dulu dipenuhi tawa perlahan menjadi suasana seperti pasar. Namun begitulah hukum alam dan orang tua memahami bahwa masa anak-anak adalah masa dimana mencari jati diri.
Ada hari ketika ayahnya memilih diam lebih lama di teras karena takut kemarahannya berubah menjadi luka bahkan kekerasan. Sementara sang ibu berkali-kali menangis diam-diam di dalam teras rumah, bahkan di depan kompor, berpura-pura matanya perih karena asap. Mereka mulai bertanya dalam hati yang paling sunyi: “Di mana anak kecil yang dulu selalu memeluk kami tanpa alasan?” Pertanyaan itu menggantung seperti lampu redup yang tak pernah benar-benar padam.
Namun menjadi orang tua rupanya adalah belajar mencintai tanpa syarat, bahkan ketika hati sendiri menangis. Sebab seaktif apa pun perangai anak kecil itu hari ini, mereka masih mengingat satu hal yang tidak pernah berubah: ia pernah menjadi alasan mereka bertahan hidup. Ia pernah menjadi nama yang disebut dalam setiap doa. Dan bukankah manusia selalu sulit membenci seseorang yang dulu begitu lama dinanti?
Suatu malam, anak itu tertidur di sofa setelah mainan bergulat dengan ayahnya. Nafasnya berat, wajahnya masih menyisakan keras kepala yang belum selesai. Sang ibu mendekat perlahan, membetulkan selimut di ranjang anaknya. Dalam cahaya lampu yang samar, wajah anak itu tiba-tiba tampak seperti balita kecil yang dulu tertidur di dadanya. Ada garis wajah yang sama, ada ketenangan yang sama dan tanpa sadar, sang ibu kembali menangis.
Ia teringat bagaimana dulu ia rela tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan anak itu lahir dan tidak demam. Ia ingat bagaimana tubuh kecil itu pernah menggenggam jarinya sangat erat seakan takut dunia mengambil ibunya pergi. Barangkali begitulah hidup bekerja: anak-anak tumbuh dengan caranya sendiri, sementara orang tua diam-diam belajar ikhlas sedikit demi sedikit.
Pagi harinya, anak itu bangun dan mendapati sarapan sudah tersedia di meja. Tidak ada amarah. Tidak ada dendam. Hanya sepiring nasi hangat dan telur kesukaannya. Ayahnya tetap berangkat kerja seperti biasa, sementara ibunya hanya berkata pelan, “Jangan lupa makan nak, ingat pesan ibu” Cinta orang tua sering kali tidak datang sebagai puisi megah, melainkan sebagai hal-hal kecil yang terus tinggal meski hati terkadang sedih.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika anak itu telah menjadi ayah bagi anak-anaknya sendiri, ia akan mengerti bahwa di dunia ini ada cinta yang tidak pernah meminta balasan. Cinta yang tetap tinggal meski sakit usia, dibentak emosi, bahkan dilupakan waktu. Cinta itu adalah cinta orang tua—cinta yang sejak awal tidak pernah meminta anaknya menjadi sempurna, melainkan hanya berharap ia tumbuh menjadi manusia yang sholih-sholihah.
Semoga anak-anak kita dijaga oleh Allah, Cinta kita terhadap anak-anak kita menjadi cambuk untuk kita tetap menjadi pribadi ikhlas dan tulus menyayangi anak-anak kita sepanjang masa apapun ulah dan keaktifannya.
Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—

Tidak ada komentar
Posting Komentar