Di bawah kursi yang ia duduki, banyak langkah kecil mulai pincang. Hak-hak orang ditunda seperti janji musim hujan yang tak kunjung datang. Ada tenaga yang diperas tanpa penghargaan. Ada pengabdian yang dianggap kewajiban tanpa perlu dibalas keadilan. Orang-orang diminta bertahan atas nama perjuangan, sementara mereka diam-diam menelan lapar, kecewa, dan rasa tidak dianggap sebagai manusia.
Anehnya, setiap keluhan selalu dijawab dengan kalimat yang terdengar suci. “Sabar itu bagian dari ibadah.” Maka orang-orang mencoba sabar. Mereka menambal luka sendiri sambil tetap menghormati sosok yang dianggap lebih dekat kepada Tuhan daripada mereka. Namun kesabaran yang dipaksa terus-menerus lambat laun berubah menjadi bara. Dan bara yang terlalu lama dipendam selalu menemukan jalannya menjadi api.
Ia semakin rajin berwirid. Semakin panjang doanya. Semakin banyak orang memuji keshalihannya. Tetapi di waktu yang sama, semakin banyak hati yang retak karena sikapnya. Ia seperti seseorang yang sibuk membersihkan sajadahnya sendiri sementara di halaman rumahnya banyak orang jatuh berdarah tanpa pernah ia tengok. Barangkali ia lupa bahwa Tuhan tidak hanya mendengar suara tasbih, tetapi juga suara hati yang dipatahkan oleh ketidakadilan.
Dan beginilah hidup sering memperlihatkan ironi paling pahit: seseorang bisa tampak sangat dekat dengan langit, tetapi begitu jauh dari hati manusia. Padahal agama tidak pernah dibangun hanya dengan panjangnya wirid atau banyaknya doa. Agama juga berdiri di atas hak orang lain yang tidak boleh diinjak walau dengan alasan perjuangan paling mulia sekalipun.
Sebab ada satu hal yang sering diremehkan oleh manusia-manusia yang merasa dirinya kuat secara ruhani: doa orang yang terluka. Doa itu tidak selalu panjang. Kadang hanya lahir dari dada yang sesak di tengah malam. Kadang hanya berupa air mata yang jatuh diam-diam saat seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Namun langit memiliki cara sendiri untuk mendengar suara-suara seperti itu.
Mungkin di antara puluhan orang yang ia kecewakan, ada satu hati yang pecahnya terlalu dalam. Ada seorang ibu yang menangis karena hak suaminya tak dipenuhi. Ada seseorang yang tetap bekerja sambil memendam hina karena diperlakukan seolah pengabdiannya tidak bernilai. Ada seorang tua yang menahan lapar sambil terus berharap janji ditepati. Dan dari sekian banyak luka itu, bisa jadi ada satu doa yang melesat ke langit tanpa penghalang.
Karena langit tidak pernah salah menghitung air mata. Ia tidak tertipu oleh pakaian suci, jabatan tinggi, atau suara doa yang paling panjang sekalipun. Tuhan tidak silau oleh gelar keshalihan jika di belakangnya ada manusia-manusia yang dipaksa diam demi menjaga kehormatan seseorang. Sebab dalam banyak kisah, yang menghancurkan seseorang bukan musuh besarnya, melainkan jeritan kecil orang-orang yang terlalu lama disakiti.
Lalu perlahan keadaan mulai berubah. Orang-orang yang dulu diam mulai berani menagih haknya. Mereka tidak lagi ingin sekadar diberi nasihat tentang sabar. Mereka ingin diperlakukan adil. Dan ketika terlalu banyak hati berdiri membawa luka yang sama, suasana berubah seperti langit sebelum badai: tenang, tetapi menakutkan. Di titik itu, wirid yang paling putih sekalipun tak lagi terasa kokoh, sebab ia berdiri di atas pundak manusia-manusia yang telah lama dipatahkan.
Perjuangan memang belum berakhir. Tetapi perjuangan yang melukai banyak orang atas nama kebaikan lambat laun akan runtuh oleh beratnya sendiri. Sebab Tuhan tidak pernah meminta manusia menjadi suci dengan cara mencederai sesama. Dan mungkin itulah pelajaran yang paling sulit diterima oleh sebagian orang: bahwa hak manusia yang diabaikan bisa berubah menjadi doa, dan doa orang yang terzalimi sering kali lebih tajam daripada ribuan wirid yang dibaca setiap malam.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk merendahkan, ataupun menyerang pribadi siapa pun. Ia hanyalah catatan kecil dari seorang penulis yang faqir ilmu, yang masih jauh dari kata baik, dan masih belajar memahami makna keadilan, amanah, serta adab dalam dunia pendidikan dan kehidupan. Bila ada kisah yang terasa dekat dengan kenyataan, semoga itu menjadi bahan renungan bersama tanpa perlu saling menunjuk wajah satu sama lain. Karena sejatinya, setiap manusia sedang berjuang melawan dirinya sendiri, dan setiap perjalanan selalu menyimpan pelajaran yang layak dipetik dengan hati yang jernih.
Wallahu A'lam bishowaab
Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—

Tidak ada komentar
Posting Komentar